|
Thursday, 06 November 2008 |
|
SATU KITAB TIGA (EMPAT) AGAMA
Taurat adalah kitab suci tertua dlm agama-agama rumpun semitis (al-adyan as-samiyyah). Sampai sekarang ini, ada 3 komunitas agama yg sudah saling berpisah ribuan tahun, dgn interpretasi masing2 yang berbeda tapi masih mendasarkan pada teks-teks suci yg sama. Kaum Samaria (kini kira-kira 600 org saja & tinggal di Nablus Palestina),sudah terpisah dari agama Yahudi 2500 yg lalu, membaca Taurat yg sama dgn saudara2 Yahudi mereka dalam aksara paleo-Ibrani,yg lebih kuno dari aksara Ibrani Masora yg dipakai komunitas Yahudi. Sementara itu, kaum Krsiten, yg berpisah dgn agama Yahudi sejak thn 90 M (muktamar Yahudi di Yamnia) -- meskipun berbeda dalam memahami ayat-ayat mesianis, karena keyakinan bahwa seluruh nubuat Taurat sdh digenapi dlm diri Yesus -- ternyata juga membaca Taurat yg sama. Dengan temuan The Dead Sea Scrolls tahun 1947, satu saksi sejarah lagi muncul, kaum Eseni, -- yg memisahkan diri dari Yudaisme kira2 abad 2 SM, juga mewariskan bagi kita Kitab Perjanjian Lama yg berusia 2150 tahun. Ajaibnya, kitab suci mereka masih sama, tidak berbeda. Fakta sejarah berteriak nyaring bahwa tuduhan pemalsuan Kitab Suci, yg mula-mula dimunculkan oleh orang-orang Arab pada zaman dinasti Umayyah, sbg "benteng pertahanan bagi orang buta huruf dari komunitas Kristen yg lebih terpelajar" dari mereka, sungguh-sungguh isapan jempol dan dongeng kaum primitip yg tidak dapat diverifikasi secara ilmiah dalam terang evidensi manuskrip-manuskrip kuno yg keberadaannya masih terpelihara hingga sekarang.
Ulasan menarik ini hanya ada di Kajian ISCS Surabaya Selasa, 11 November 2008 Jam 19.00 Gedung Serbaguna Keuskupan Surabaya Jl. WR Supratman 4 Pembicara: Bp.Bambang Noorsena, SH,MA. Ajaklah teman-teman Anda dalam diskusi gratis ini.
|
|
Monday, 27 August 2007 |
Beberapa hari lalu (th.2004), seorang teman dari komunitas jurnalis Kristen meminta saya untuk turut dalam perdebatan soal nama Allah. Terus terang, saya malas. Mengapa? Karena saya sangat mengenal "kaum penentang Allah" itu, pola pikir mereka "hitam putih", main kutip ayat-ayat Alkitab secara harfiah terlepas dari konteks (mirip dengan "metode ayat bukti" a la bidat Saksi-saksi Yehuwa), dan kekurangan paling serius mereka, tidak menguasai filologi bahasa-bahasa semitis, khususnya keserumpunan bahasa Ibrani, Aram dan Arab. |
|
Read more...
|
|
Tuesday, 28 August 2007 |
|
Sejak Kitab Suci Perjanjian Baru ditulis oleh rasul-rasul Kristus, tetagramaton (keempat huruf suci Yhwh, Yahweh) diterjemahkan dalam bahasa Yunani Kyrios (Tuhan). Cara ini mengikuti kebiasaan Yahudi, yang juga diikuti oleh Yesus dan rasul-rasulnya, yang biasanya melafalkan Yahweh dengan Adonay (Tuhan) atau ha Shem (Nama segala nama). United Bible Societies (UBS) dan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) juga mengikuti kebiasaan ini, yang dibenarkan dan diikuti oleh orang Yahudi modern sekarang, untuk mener-jemahkan Yahwe dengan The Lord (dengan huruf besar semua). Yang pertama kali menggugat tradisi penerjemah-kan nama Allah ini adalah kelompok sempalan yang menamakan diri Yehovah’s Witnesses (Saksi-saksi Yehuwa). |
|
Read more...
|
|
Monday, 27 August 2007 |
1.Catatan Pengantar Ketiga artikel saya mengenai seputar kontroversi Allah dan YHWH, ditanggapi secara bertubi-tubi oleh kelompok ABA (Asal Bukan Allah) di www.salib.net Rupanya, mumpung website ini bersedia memuat tulisan-tulisan mereka, sebab banyak pembaca sudah bosan dengan argumentasi mereka yang hanya berputar-putar. Mas Anas seminggu lalu menulis via e-mail mengenai tanggapan ini, tetapi saya belum bisa membalasnya karena posisi saya masih di Luxor, dan baru tanggal 23 Desember saya kembali ke Kairo. Prinsipnya, sudah saya katakan, saya tidak akan menganggapi satu persatu, karena tidak ada waktu dan tidak terlalu perlu. |
|
Read more...
|
|